Informasi

Alasan Moratorium UN Harus dilakukan dan Kenapa Ditolak ?

Kontributor: Arif Voyager

Sebuah gebrakan dilakukan kembali oleh Mendikbud untuk menutup akhir tahun 2016 ini dengan mengajukan Moratorium Ujian Nasional kepada Presiden Jokowi. Walau sempat menunggu instruksi dari Presien, dimana beberapa waktu lalu moratorium sedang dibahas pada rapat kabinet, nyatanya Moratorium tersebut di tolak. Sebelum kita bahas kenapa moratorium sampai ditolak, berikut komentar netizen di Line Today yang mungkin bisa membuat kita se-indonesia tergugah.

Hasil gambar untuk ujian nasional

  • Hapuskan skripsi juga please (wipi)
  • Knp gk 2015??? kesel gw (Anna)
  • Jangan-jangan nih orang dulu benci sekolah wkwkwkwk (Fernando Lim)
  • Iya UN 2017 dihapus UN 2018 2019 2020 ada lagi (Diah Ayu Wulandari)
  • Kesian sekolahan gua baru beli komputer bakal UNBK (Rifkiyusufalfandi) Trus usulannya ditolak sama Presiden : )) (Adi Pratama)
  • Hanya di Indonesia ganti mentri mendikbud ganti pula kurikulum sekolah, ntar lama2 hilng semua tu kurikulum muridnya jadi punya gelar D3,, duduk, datang, domblong,, (Bilqis)
  • Trs kembali ke EBTANAS ??? (Taufiq Al-Magribi)
  • Ya Allah jadi kelinci percobaan lagi- _ – (Nabila F.A)

Terlepas dari pro dan kontra, sebenarnya moratorium itu adalah pemberhentian sementara. Nah, berikut alasan kenapa Ujian Nasional harus di moratorium;

  1. Lebih baik, guru dan pihak sekolah yang mengatur kebijakan penilaian untuk siswa dari indikator yang diberikan dari Kemendikbud. Pemerintah, fokus untuk mengembangkan kapasitas guru dalam mengajar dan menilai.
  2. Hasil UN yang diharapkan bisa menjadi sebuah pemetaan mutu program pada satuan pendidikan. Namun kenyataan, yang didapat adalah pemetaan ketidakjujuran berbagai pihak, sehingga termasuk pada pelanggaran pasal 68 huruf(a) PP 19 / 2005.
  3. Dengan adanya standar pendidik minimal S1 sesuai pasal 29 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005, namun tidak dibarengi dengan, terpenuhinya standar sarana prasarana pendidikan, masih tidak mungkin dibuatkan soal UN dengan indikator sama di seluruh wilayah Indonesia.
  4. Memaksakan diri menyelenggarakan UN dengan standar yang harus sama satu indonesia tanpa mempertimbangkan berbagai aspek. tidak berkeadilan sesuai ketentuan pasal 66 ayat 2 PP 19/2005.

Lantas, penolakan Moratorium oleh Presiden didasari dengan;

Kajian yang dilakukan oleh Kemendikbud Belum Final

Johan Budi SP, Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi menuturkan, penolakan moratorium UN belum final. Presiden, menginginkan agar moratorium UN disertai dengan kajian mendalam dan alasan yang kuat. Nantinya, hasil kajian tersebut akan kembali dibahas dalam rapat terbatas kabinet. Presiden Jokowi akan memberikan keputusan apakah tetap mempertahankan UN atau menghentikan. Namun, Johan tak menjelaskan kapan rapat terbatas itu dijadwalkan.

Sebagai informasi, Mendikbud, Muhadjir Effendy, mengusulkan tiga opsi terkait UN, yakni; (1) Penghapusan UN dari sistem pendidikan, (2) Penghentian sementara UN mulai 2017, atau (3) Tetap menjalankan UN dengan teknis pelaksanaan diserahkan kepada daerah. Khusus untuk opsi ketiga, UN untuk tingkat SMA dan sederajat diusulkan ditangani oleh pemerintah provinsi, sedangkan tingkat SD dan SMP dan sederajat ditangani pemerintah kabupaten/kota.

Namun, ketiga opsi yang ditawarkan Mendikbud kepada Presiden Joko Widodo tersebut masih harus dibahas dalam rapat kabinet terbatas, sebelum diputuskan pemerintah.

Referensi:

http://telkomuniversity.ac.id/images/uploads/PP_No._19_Tahun_2005.pdf

http://diktara.paudni.kemdiknas.go.id/bindikmas/berita/anies-baswedan-tak-setuju-moratorium-un?page=4&order=title&sort=asc

http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/139385-%5B_Konten_%5D-Menunggu0001.pdf

Berita di Metro TV, RCTI, TV One (Streaming Youtube di ARI)

www.kompas.com

www.sindonews.com

 

muda-bicara
24
Sep

Muda Bicara Pendidikan Indonesia

Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia—Soekarno

Anak muda merupakan agent of change yang akan berkontribusi bagi perkembangan negara. Jiwa semangat masih bergejolak dengan idealisme yang tak mudah goyah, merupakan modal penting untuk dioptimalisasikan. Bentuk gerakan yang menyatukan mereka bisa menjadi jalan menuju peradaban yang lebih baik, itulah tujuan gagasan yang dibentuk oleh Aliansi Remaja Independen melalui salah satu gerakan Muda Bicara Pendidikan. Details

love-shadow
24
Sep

Ada Apa Dengan Kondom?

Pada tanggal 14 September 2016, saya dikejutkan oleh salah satu headline berita di laman situs berita ternama di Indonesia, merdeka.co.id, yang bertuliskan “Malu beli kondom, sejoli ini pakai kantong kresek buat hubungan seks”. Ketika saya membaca lebih lanjut, tersurat bahwa kejadian tersebut melibatkan dua remaja yang berstatus mahasiswa di Vietnam. Kedua remaja tersebut memilih berhubungan seks untuk pertama kalinya dan berkesadaran untuk berhubungan seks dengan aman. Sayangnya kesadaran tersebut tertutup oleh rasa takut akan stigma dari masyarakat dan kurangnya informasi dan edukasi mengenai seksualitas. Tersirat betapa kuatnya stigma dan prejudice masyarakat hingga mempengaruhi mentalitas remaja untuk berfikir sehat. Realita tersebut membuat perasaan saya miris tetapi sekaligus mengingatkan saya akan kondisi di negeri tercinta, Indonesia. Details

bambang
6
Sep

Pengalaman Pertama Gue Bergabung di ARI

Hallo teman muda generasi penerus bangsa. Saya Bambang Abdul Aziz, siang ini saya akan bercerita mengenai Aliansi Remaja Independen atau biasa disingkat ARI. ARI apaan sih? Biasanya ini adalah pertanyaan mendasar dari setiap remaja Indonesia yang baru mendengar ARI. Oke saya jelaskan sepintas ya, ARI atau Aliansi Remaja Independen adalah organisasi remaja usia 10 – 24 tahun yang memiliki fokus dalam advokasi remaja bidang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), Pendidikan, dan Ketenagakerjaan. Details

arif-lsm-remaja-organisasi-anak muda-ngo-youth-young people-kesehatan-pendidikan-ketenagakerjaan-jakarta-makassar-kupang-mataram-indonesia
27
Jun

Mengimplementasikan Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi yang Komprehensif

Apa itu Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi?

Kadang-kadang, kita keliru dan percaya bahwa pendidikan seksualitas hanya merujuk pada perilaku seksual (misalnya, hubungan seksual), bukan terhadap pengoptimalan topik yang terdiri seksualitas itu sendiri. Topik dalam Bahasa itu diantaranya termasuk informasi dan kekhawatiran terhadap pantangan, citra tubuh, kontrasepsi, jenis kelamin, pertumbuhan dan perkembangan manusia, reproduksi manusia, kehamilan, hubungan, seks yang lebih aman (pencegahan infeksi menular seksual), sikap dan nilai-nilai seksual, anatomi seksual dan fisiologi, perilaku seksual, kesehatan seksual, orientasi seksual, dan kesenangan seksual. Details

arif-lsm-remaja-organisasi-anak muda-ngo-youth-young people-kesehatan-pendidikan-ketenagakerjaan-jakarta-makassar-kupang-mataram-indonesia
27
Jun

Perlindungan Anak di Sekolah: Hadiah di Atas Kertas

Komitmen besar dari  Indonesia dalam melakukan perlindungan anak di dunia pendidikan dapat dikategorikan sebagai negara yang memiliki komitmen yang tinggi jika ditinjau dari sisi norma. meskipun secara eksplisit tercantum dalam UUD 1945, komitmen tersebut sudah termaktub dalam undang-undang.

Telah jelas bahwa dalam Pasal 31 ayat (1) “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Di pihak lain, konstitusi juga memberikan atensi besar terhadap perlindungan anak dari kekerasan. Pasal 28 B ayat 2 “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Details

kekerasan seksual-organisasi-anak muda-yuyun-seksualitas-pendidikan-komperehensif
9
May

Pendidikan Seksualitas Komprehensif dalam Kurikulum Pendidikan Nasional adalah Salah Satu Solusi Mendasar untuk Menghentikan Kekerasan Seksual

Kasus YY, anak perempuan asal Bengkulu berusia 14 tahun, yang meninggal setelah diperkosa oleh 14 remaja laki-laki, hanya sepenggal kisah dari 35 perempuan korban kekerasan seksual setiap hari di Indonesia, dan hanya satu fakta dari 135 anak korban kekerasan seksual setiap bulan di Indonesia. Kami mengutuk keras kekerasan pada anak dan perempuan, dan mendesak pemerintah untuk membekali anak sedini mungkin dengan pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi komprehensif dalam kurikulum pendidikan nasional. Details

kekerasan seksual-istana merdeka-bundaran hi-yuyun-lsm-perkosaan-kekerasan seksual-demo-jakarta
5
May

Stop Kekerasan Seksual

Berita duka datang dari Bengkulu. YN (14) meninggal dunia setelah diperkosa dan dipukul oleh 14 remaja saat pulang sekolah. Mirisnya, mayoritas pelaku adalah anak-anak. Para pelaku ditengarai mabuk sebelum melakukan pemerkosaan tersebut.

Kekerasan seksual menjadi masalah serius sekaligus memprihatinkan. Kekerasan seksual tak hanya dapat menimpa perempuan, namun juga laki-laki. Bahkan, kekerasan seksual sangat rentan terjadi kepada anak-anak. Meski begitu, berdasarkan berbagai penelitian, korban kekerasan seksual mayoritas adalah anak-anak perempuan. YN adalah salah satunya.

Kasus ini menjadi gambaran betapa berisikonya dunia anak-anak. Lagi-lagi, yang jadi korban adalah perempuan. Dari hal tersebut sudah ada dua ironi, yaitu kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan. Saya yakin, ada banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi selain kasus YN tersebut.

Di Kabupaten Kubu Raya, ada juga kasus kekerasan seksual terhadap perempuan oleh ayah kandungnya sendiri, Senin (2/5). Korban yang masih berusia 18 tahun diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri hingga hamil. bahkan, kekerasan seksual tersebut dibarengi dengan kekerasan fisik berupa pukulan dan kekerasan psikis berupa ancaman.

Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan salah satu teman yang sedang menempuh pendidikan kebidanan. Katanya, banyak sekali kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan terjadi, terutama di Jakarta. Bahkan, ada yang sampai hamil diluar rahim. Hal ini membuat korban akan menderita seumur hidup.

Menurut data Komisi Nasional (Komnas) Perempuan yang melibatkan 33 lembaga menunjukkan bahwa 35 perempuan Indonesia mengalami kekerasan seksual setiap hari. Mayoritas korban kekerasan seksual tersebut adalah anak-anak. Selain itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menyebut bahwa hampir setengah kasus kekerasan yang dialami adalah kekerasan seksual.

Masih berdasar Catahu Komnas Perempuan tahun 2016, kekerasan seksual menempati peringkat kedua bentuk kekerasan yang menimpa perempuan. Hal ini menjelaskan bahwa kekerasan seksual menjadi momok yang harus segera dicarikan solusinya agar tak ada lagi korban-korban selanjutnya.

Sebenarnya, kekerasan seksual bukan hanya pemerkosaan. Lebih luas, kekerasan seksual meliputi pelecehan seksual, kemudian tindakan seksual yang dilakukan dengan paksaan, pencabulan, dan sebagainya. Semua jenis kekerasan seksual tersebut memiliki dampak yang sama, dampak negatif.

Kekerasan seksual yang terjadi kepada anak menimbulkan berbagai dampak buruk, yaitu fisik dan psikologis. Anak-anak korban kekerasan seksual sangat potensial tertular penyakit menular seksual, seperti HIV dan AIDS. Terlebih lagi jika menimbulkan kecacatan fisik akibat kekerasan tersebut. Lebih luas, hal ini berdampak kepada bidang ekonomi dan sosial.

Kemudian, kekerasan seksual akan meninggalkan rasa trauma dan depresi kepada korban. Jika YN masih hidup, kemungkinan besar ia akan depresi. Bahkan, saudara YN, sebut saja YA merasakan trauma mendalam akibat kasus yang dialami saudaranya tersebut. YN hanyalah satu dari banyaknya korban yang sangat mungkin trauma akibat kekerasan seksual yang mereka alami.

Amat miris mendengar kasus serupa terjadi berulang-ulang. lebih parahnya, kejadian tersebut memakan korban anak-anak. Mereka memiliki masa depan yang menjanjikan. Sangat disayangkan jika masa depan tersebut harus terenggut begitu saja karena kepolosan mereka.

Perlu adanya tindakan yang komprehensif untuk menghentikan ini semua. Setidaknya, ada dua hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi kasus serupa terjadi lagi. Pertama, perlu adanya pendidikan seksual yang komprehensif bagi anak-anak. Kemudian, pemerintah perlu segera mensahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Pemerintah perlu merespons hal ini secara bijak dengan mengimplementasikan kurikulum pendidikan seksual yang komprehensif. Hal ini merupakan langkah preventif agar tindakan kekerasan seksual dapat diminimalisasi.

Dengan adanya garis tegas yang diajarkan di sekolah, diharapkan anak-anak akan paham apa itu kekerasan seksual beserta turunannya, sehingga mereka dapat melindungi diri agar tak menjadi korban.

Kedua, di Indonesia belum ada payung hukum ihwal perlindungan terhadap kekerasan seksual. Sebenarnya, ada RUU PKS yang sudah masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2015-2016. Namun, RUU PKS tidak masuk daftar prioritas RUU yang akan disahkan tahun 2016.

Padahal, melihat urgensi berdasarkan banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi, RUU PKS perlu segera disahkan. Pancasila sila ke-2 seharusnya juga dijadikan landasan untuk segera mensahkan RUU PKS ini.

Menunggu terlalu lama berarti membiarkan munculnya korban kekerasan seksual selanjutnya. Tidak dapat dibayangkan jika korban tersebut adalah bagian dari keluarga kita. Stop kekerasan seksual.

*Ahmad Zulfiyan, Koordinator Divisi Penelitian dan Pengembangan Aliansi Remaja Independen.

Artikel ini dapat dibaca juga di sini.

Details

organisasi-anak muda-remaja-kekerasan-anak
7
Mar

Action! #BreakTheChain

Action! #BreakTheChain hopes to raise awareness on violence against children and the values of
tolerance through social media interaction and public campaigns.
Furthermore, to empower children as agents of change,
Action! involves selected junior high
school students in a series of peer consultancy workshops in Jakarta and Bandung.
Connect with them and be a part of the change!
Facebook: http://fb.me/actionbreakthechain
Twitter: http://twitter.com/acttobreak
Ask fm: http://ask.fm/acttobreak
LINE: http://line.me/ti/p/%40acttobreak