Artikel dan Opini
23
Jan

Kenali 15 Bentuk Kekerasan Seksual dari Komnas Perempuan Ini

Ditulis oleh Dewi Rachmanita Syiam

Apakah kamu bertanya-tanya apa saja sih bentuk kekerasan seksual? Komisi Nasional anti Kekerasan Terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan sudah merilis nih 15 bentuk kekerasan seksual di dalam pedoman mereka. Kekerasan seksual tersebut ditemukan Komnas Perempuan dari hasil pemantauannya selama 15 tahun, yakni dari 1998-2013. Hal yang perlu kamu tahu, kalau kekerasan seksual bukan hanya terjadi pada perempuan, namun semua orang juga berisiko menjadi korban.

Berikut 15 bentuk kekerasan seksual yang wajib kamu tahu:

  1. Perkosaan

Perkosaan ini berupa serangan dalam bentuk pemaksaan hubungan seksual atau sexual intercourse. Biasanya pelaku kekerasan menggunakan organ kelamin mereka untuk melakukan perkosaan tersebut, selain itu juga bisa menggunakan jari tangan atau benda-benda lainnya. Serangan yang dilakukan tersebut dengan kekerasan, ancaman kekerasan, penahanan, tekanan psikologis, penyalahgunaan kekuasaan, atau mengambil kesempatan tertentu dari lingkungan yang penuh paksaan.

 

  1. Intimidasi seksual, termasuk ancaman atau percobaan perkosaan

Intimidasi seksual berupa tindakan menyerang seksualitas untuk menakuti atau memberi penderitaan psikis pada korban. Hal ini bisa disampaikan secara langsung atau tidak seperti melalui surat, chat, email, dan lainnya. Ancaman atau percobaan perkosaan juga bagian dari intimidasi seksual, loh!

 

  1. Pelecehan seksual

Contoh-contoh pelecehan seksual itu bisa sentuhan fisik atau non fisik dengan sasaran seksualitas korban seperti siulan, mempertunjukkan materi pornografi, lirikan mata, ucapan bernuansa seksual, sentuhan dan colekan di bagian tubuh. Bahkan gerakan atau isyarat bersifat seksual yang bikin nggak nyaman dan merasa direndahkan sampai bikin masalah kesehatan dan keselamatan.

 

  1. Eksploitasi seksual

Segala tindakan yang berupa penyalahgunaan kekuasaan yang timpang atau penyalahgunaan kepercayaan demi kepuasan seksual atau memperoleh keuntungan yang berupa uang, sosial, politik, dan lainnya dikatakan eksploitasi seksual. Biasanya dapat berupa keterlibatan dalam prostitusi dan pornografi.

 

  1. Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual

Tindakan yang termasuk sebagai perdagangan perempuan sangat banyak bentuknya, mulai dari tindakan merekrut, mengangkut, menampung, mengirim, memindahkan, atau menerima seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, sampai penyalahgunaan kekuasaan terhadap posisi rentan penjeratan utang atau pemberian bayaran atau manfaat terhadap korban secara langsung atau lewat orang lain yang menguasai dengan tujuan prostitusi atau eksploitasi seksual.

 

  1. Prostitusi paksa

Dalam hal ini, pihak korban mengalami tipu daya, ancaman, sampai kekerasan untuk menjadi pekerja seks. Padahal korban secara jelas tidak memberikan persetujuan apapun untuk menjadi pekerja seks.

 

  1. Perbudakan seksual

Poin ini berupa situasi yang pelakunya merasa menjadi “pemilik” atas tubuh korban. Tidak hanya itu, tapi juga melakukan apapun, termasuk memperoleh kekuasaan seksual melalui pemerkosaan atau bentuk kekerasan seksual lain. Biasanya dipaksa menikah, melayani rumah tangga, dan lainnya. Biasanya bentuk kekerasan seksual ini bersifat laten, sehingga seseorang merasa “dimiliki” sepenuhnya oleh seseorang atau kelompok.

 

  1. Pemaksaan perkawinan

Beberapa praktik yang termasuk dalam pemaksaan perkawinan, yaitu perempuan tidak merasa memiliki pilihan lain kecuali mengikuti kehendak orang tuanya agar menikah walau bukan dengan orang yang diinginkan bahkan tak dikenal. Selain itu juga praktik memaksa korban perkosaan menikahi pelaku yang dianggap mengurangi aib karena perkosaan yang terjadi. Praktik lainnya, yakni cerai gantung saat perempuan dipaksa terus berada dalam ikatan perkawinan walau ia ingin bercerai. Termasuk juga pemaksaan perkawinan untuk anak usia kurang dari 18 tahun.

 

  1. Pemaksaan kehamilan

Poin ini memiliki artian korban dipaksa dengan kekerasan atau ancaman untuk melanjutkan kehamilan yang tidak ia kehendaki. Contohnya korban pemerkosaan yang tidak diberi pilihan lain kecuali melanjutkan kehamilannya atau seorang suami yang menghalangi istrinya menggunakan kontrasepsi untuk mengatur jarak kehamilan.

 

  1. Pemaksaan aborsi

Perempuan berhak untuk melanjutkan atau memberhentikan kehamilannya. Namun jika hal ini dilakukan dengan tekanan, ancaman, dan paksaan dari pihak lain justeru menjadi pelanggaran terhadap hak perempuan.

 

  1. Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi

Contoh tindakan yang masuk dalam poin ini ialah saat adanya pemaksaan pemasangan alat kontrasepsi dan/atau pelaksanaan sterilisasi tanpa persetujuan utuh dari individu akibat tidak dapat informasi secara lengkap atau dianggap tidak cakap hukum untuk memberi persetujuan.

 

  1. Penyiksaan seksual

Apa saja yang termasuk bentuk penyiksaan seksual? Korban dilukai secara seksual sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan hebat, bukan hanya fisik, namun juga psikis. Penyiksaan seksual terjadi jika korban tidak memiliki kosen apapun terkait apa yang dilakukan padanya.

 

  1. Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual

Ini berupa cara menghukum yang bikin penderitaan, kesakitan, ketakutan, atau malu yang tidak termasuk dalam penyiksaan. Contohnya hukum kebiri yang dilakukan untuk pelaku kekerasan seksual. Hukuman kebiri adalah bentuk tidak manusiawi yang bernuansa seksual. Anehnya, Negara justru melakukan kekerasan ini untuk menghukum pelaku kekerasan seksual.

 

  1. Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan

Poin ini berupa kebiasaan masyarakat yang kadang ditopang dengan alasan agama dan/atau budaya, yang bernuansa seksual dan dapat menimbulkan cedera secara fisik, psikologis atau seksual kepada perempuan yang bersangkutan. Selain itu, dapat dilakukan untuk mengontrol seksualitas perempuan dalam perspektif merendahkannya. Misalnya praktik sunat perempuan, praktik sunat perempuan berdasarkan riset medis tidak memiliki manfaat apapun untuk perempuan. Justeru praktik ini hanya untuk mengontrol seksualitas perempuan.

 

  1. Kontrol seksual

Sering merasa perempuan dibedakan sebagai “perempuan baik-baik” dan “perempuan nakal” serta menghakimi perempuan sebagai pemicu kekerasan seksual? Nah, cara pikir di masyarakat tersebut yang masuk dalam cakupan kontrol seksual dengan beragam tindak kekerasan atau ancaman kekerasan langsung atau tidak atau memaksa perempuan menginternalisasi simbol-simbol tertentu yang dibilang “perempuan baik-baik”.

23
Jan

Wajib Tahu! 7 Hal yang Kamu Kira Konsensual Padahal Tidak

Segala hal yang kamu lakukan dengan dia sepatutnya dilandasi atas konsensual alias kesepakatan satu sama lain. Jangan sampai apa yang dilakukan itu bikin tidak nyaman dan ada tekanan dari pihak-pihak tertentu. Kalau sampai ada tekanan atau paksaan, itu bisa tergolong kekerasan loh.

Nah, oleh karena itu penting untuk paham hal-hal yang merupakan konsensual dan hal-hal yang tidak masuk. Dilansir dari Bustle, ini dia 7 hal yang mungkin selama ini dianggap konsensual padahal tidak.

  1. Diam

Kalau dalam melakukan suatu hal dia hanya diam saja, kamu patut bertanya tentang kondisinya. Apakah dia nyaman dan baik-baik saja? Pasalnya korban kekerasan biasanya tidak akan cerita tentang perasaannya. Ia lebih memilih diam karena kaget atau takut mendapat tindakan yang lebih tidak membuatnya nyaman lagi. Ia juga mungkin tidak punya pilihan lain lagi selain diam.

 

  1. Setuju pada waktu yang berbeda

Bukan berarti dia mau melakukan hal itu kemarin-kemarin, ia juga mau lagi hari ini atau kemudian. Mungkin saja sebenarnya dia sedang tidak dalam kondisi yang baik. Bukan berarti kalau dulu dia mau melakukannya, dia sudah pasti akan mau melakukannya lagi. Oleh karena itu, kamu perlu tanya lagi pendapatnya. Sekali lagi, jangan ada paksaan, ya!

 

  1. Berubah pikiran

Awalnya dia mau, lalu tiba-tiba berubah. Kenapa? Bisa saja loh dia berubah pikiran, mungkin karena tidak nyaman setelah melakukannya atau beragam alasan lain. Kalau dia berubah pikiran tiba-tiba, jangan kamu terus memaksanya. Kamu sepatutnya menghormati keputusannya.

 

  1. Setuju untuk hal lain

Kalau dia mau melakukan suatu hal denganmu, bukan berarti dia mau melakukan hal lainnya juga. Pahami kalau hal-hal itu berbeda dan perlu persetujuan kembali. Jangan melakukan apa yang sebenarnya dia tidak setuju.

 

  1. Setuju karena tidak tahu

Masa kamu tidak jujur sama dia soal dirimu? Dia wajib tahu loh tentang yang ada di dirimu saat mengambil keputusan. Hal itu karena dia akan menimbang konsekuensi yang akan dia jalani setelah mengambil keputusan tersebut. Contoh sederhananya sih kamu ternyata di belakang sudah punya pacar saat lagi jalan bareng sama dia.

 

  1. Tidak bisa kasih kesepakatan

Banyak hal yang memungkin dia tidak dengan benar paham soal kesepakatan. Contohnya bagi anak-anak atau orang yang sedang tidak sadarkan diri. Mereka tidak bisa menimbang dengan rasional apa konsekuensi yang harus dijalani nantinya setelah kesepakatan itu. Nah, belum tahunya ini termasuk hal yang tidak bisa dianggap konsensual

 

  1. Paksaan

Dia terpaksa mengiyakan kesepakatan itu karena ada unsur paksaan darimu. Apapun dalihnya, kalau dia sudah bilang tidak dan kamu coba tetap merayunya bisa disebut paksaan. Hal ini tentu bukan menjadi konsensus dalam sebuah hubungan. Apalagi kalau kamu gombal-gombal soal tanda cinta, ekspresi kasih sayang, dan lainnya.

 

Beragam hal-hal itu acap kali terjadi di keseharian kita. So, bijaklah dalam bersikap dan hormati dia apapun kondisinya. Ingat, konsensual itu merupakan kesepakatan dari dua belah pihak tanpa paksaan atau kebohongan.

 

https://www.bustle.com/articles/120588-7-things-you-might-think-are-consent-that-arent

23
Jan

Youth Health Celebration 2017: Saatnya Remaja Berperan dalam Menghapus Kekerasan Seksual!

“Let’s End Sexual Violence, and Dance!”

Itulah slogan yang diusung pada acara Youth Health Celebration (YHC) 2017, 16 Desember 2017 lalu di Jakarta. Acara yang diselenggarakan oleh Aliansi Remaja Independen (ARI) yang berkolaborasi dengan Dance4Life Indonesia ini berisi beragam rangkaian acara sebagai gerakan remaja untuk mendukung kampanye, advokasi, dan upaya intervensi penghapusan kekerasan seksual. Salah satunya juga mendukung advokasi upaya pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual. Sebagai acara 2 tahunan ARI, yang sebelumnya pada tahun 2015 YHC mengangkat tema Layanan Kesehatan Ramah Remaja, lalu YHC 2017 berfokus pada kekerasan seksual.

“Youth Health Celebration adalah perwujudan komitmen ARI untuk mempromosikan isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) dan mendukung pemerintah melaksanakan dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) dengan tujuan ke nomor 5 dan target nomor 2,” tutur Ihsan selaku Project Officer.

Memiliki sasaran utama remaja usia 10-24 tahun, YHC 2017 mengagas beberapa acara. Mula-mula diawali dengan pre-event berupa lomba poster dan vlog. Lalu, gelaran ini memiliki main event pada Sabtu, 16 Desember 2017 dengan beragam kegiatan pula di dalamnya.

Pre-event

Dalam rangkaian pre-event lomba poster, remaja melalui kanal media sosial memiliki kesempatan berekspresi dan menuangkan idenya dalam poster dengan tema “Stop Kekerasan Seksual”. Topiknyapun bermacam-macan, mulai dari sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, Remaja Berperan dan Bersuara!, Ciptakan Mekanisme Pelaporan yang Efektif, dan Stop Cat Calling!

Sedangkan dalam pre-event lomba vlog dengan tema yang sama, diminta untuk membuat vlog berdurasi 60-90 detik. Ada sedikit perbedaan dengan lomba poster dalam topik lomba vlog yaitu; Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, Remaja Berperan Bersatu dan Bersuara, Ciptakan Mekanisme Pelaporan Efektif, Stop Perkawinan Anak, dan Stop Sunat Perempuan.

Main event

Youth Health Celebration 2017 juga menyelenggarakan main event dengan beragam acara di dalamnya. Dilaksanakan pada Sabtu, 16 Desember 2017 dan berlokasi di Taman Menteng, Jakarta, YHC 2017 membuat deklarasi bertajuk “Remaja Melawan Kekerasan Seksual”.

            Deklarasi tersebut dibuat di hari yang sama pada diskusi publik yang dihadiri lebih dari 70 remaja. Diskusi tersebut mengangkat tajuk “Peran Remaja dalam Menghapus Kekerasan Seksual” yang menghadirkan beberapa narasumber kredibel di bidangnya yang berbagi pandangan dan wawasannya berkenaan dengan tema tersebut, yaitu Rika Rosvianti (perEMPUan) sebagai moderator, Novie Juanita (PKBI Jakarta), Almira Andriana (ARI), Masruchah (Komnas Perempuan), dan drg. Silvia, MAP (P2TP2A) sebagai pembicara.

Kemudian juga ada rangkaian kegiatan di main event YHC 2017 ini, yaitu booth-booth layanan dan organisasi. Endah N Rhesa, Calvin Jeremy, dan Simponi juga turut meramaikan acara ini walau hujan sempat turun. Para remaja juga sukses turut serta tampil di panggung, seperti Perkusi “Sanggat Anak Harapan”, modern dance dari SMKN 46 Jakarta, dan tari saman dari SMAN 23 Jakarta.

Tidak dipungut biaya alias gratis, YHC tentu menjadi salah satu acara yang cocok untuk remaja maupun masyarakat umum lainnya mengetahui soal isu kekerasan seksual. Ada edukasi sekaligus hiburan yang harmonis di YHC 2017. So, sampai jumpa di YHC selanjutnya! (Dewi Rachmanita Syiam)


Lokakarya Kebijakan Berbasis Bukti dalam Pembangunan Remaja di Asia

Kontributor: Prameswari Puspa Dewi

2

Salah satu yang menjadi tolok ukur penting dalam pertemuan ini adalah bagaimana setiap peserta dari lintas pemerintah dan remaja menyadari pentingnya kebijakan berbasis bukti (evidence-based) untuk memaksimalkan cakupan remaja yang terdampak dari kebijakan. Bukan tidak mungkin keterbatasan data dan dana dalam riset membuat beberapa pihak merasa perlu potong kompas dan melewati tahap verifikasi data-data, sehingga kebijakan yang dibuat tidak menjawab permasalahan dan potensi remaja yang ada. Selain itu juga, inklusifitas termasuk aksesibilitas selalu menjadi kata-kata yang digaungkan dalam lokakarya ini. Pemerintah harus mendefiniskan ulang pengertian siapa remaja di negara masing-masing dengan melihat karakteristik remaja dengan memperhatikan keberagaman baik fisik, gender, identitas, aksesibilitas, dsb.

Details

9
May

Menakar Toleransi Dalam Edukasi

“If we desire a society of peace, then we cannot achieve such a society through violence. If we desire a society without discrimination, then we must not discriminate against anyone in the process of building this society. If we desire a society that is democratic, then democracy must become a means as well as an end.”
– Bayard Rustin
brainyquote.com

Nilai kebhinekaan adalah satu nilai yang diusung dalam Nawacita yang dicetuskan oleh presiden Jokowi, tepatnya dalam Nawacita ke-9, yaitu “memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan, memperkuat pendidikan kebhinekaan, dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.” Berdasarkan cita tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyusun program pendidikan kebhinekaan melalui pendidikan kewarganegaraan di sekolah dalam rencana strategis (Renstra) pada tahun 2015-2019.
Meski sudah ada kebijakan tentang memperkuat nilai-nilai toleransi terutama pada satuan pendidikan, tetapi pada kenyataan nya masih banyak nilai yang belum optimal. Oleh karena itu Pusat Penelitian dan Kajian Kemendikbud (Puslitjakdikbud) melakukan kajian untuk mengidentifikasi masalah intoleransi yang terjadi dalam konteks pendidikan agar pendidikan kebhinekaan lebih optimal. Kajian ini dilakukan secara kualitatif di Kabupaten Singkawang dan Salatiga di mana karakteristik masyarakat di daerah tersebut cukup beragam dari aspeki agama, etnis maupun budaya.
Hasil riset tersebut menunjukan bahwa siwa sekolah-sekolah punya kecenderungan untuk memiliih teman berdasarkan etnisnya karena didukung kebiasaan umum masyarakat didaerah sekitar, hal-hal tersebut akan memancing timbul nya intoleransi dalam pendidikan, sebagai contoh, mayoritas siswa tidak setuju ketika diketuai oleh siswa yang agama atapun etnis nya berbeda.

Pernyataan Henny Supolo dalam sebuah diskusi peringatan hari pendidikan nasional yang digelar di komnas HAM seperti yang diliput oleh kompas.com dan tribunnews.com bahwa isu intoleransi tersebut adalah imbas dari momentum pilkada dki jakarta, di sisi lain Nur Berlian mengungkapkan bahwa sekolah bisa menerapkan pendidikan kebinekaan dengan melakukan pembauran siswa dari berbagai latar belakang dalam berbagai kegiatan intra maupun ekstrakurikuler, organisasi, kepanitiaan, dan sebagainya. Sekolah juga diminta memberikan ruang atau wadah untuk mengaktualisasikan agama siswa dengan menyediakan tempat ibadah, acara peringatan hari besar agama, kegiatan ibadah bersama, membaca Alquran, persekutuan doa, retreat, dan sebagainya yang dilansir dalam student.cnnindoneisa.com

Ada peraturan dan kebijakan yang melindungi segenap rakyat khususnya dalam hal ini yang melindungi siswa dari diskriminasi, seperti yang ada di Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia (DUHAM) Pasal 2 “ setiap orang berhak atas hak dan kebebasan yang tercantum dalam deklarasi ini dengan tidak ada pengecualian “  pasal tersebut juga sudah di ratifikasi dalam pasal 28 UUD 1945, bahwa hak setiap orang telah dijamin, termasuk dalam pasal 28B ayat (2)

Sebagai warga negara kita juga harus berperan serta dalam menjaga toleransi dan kebhinekaan, seperti yang tercantum dalam uu no 40 tahun 2008 pasal 11 yang berbunyi  “Setiap warga negara berperan serta dalam upaya penyelenggaraan perlindungan dan pencegahan terhadap diskriminasi ras dan etnis”  dengan hal ini seharusnya kita sebagai warga negara paham betul apa itu kebhinekaan, agar tidak terjadinya intoleransi dalam bidang, ekonomi,agama,politik, maupun pendidikan,

 

 

 

 

Referensi:
http://nasional.kompas.com/read/2017/02/10/14332061/universitas.islam.internasional.indonesia.diharapkan.kurangi.intoleransi
http://student.cnnindonesia.com/edukasi/20170502103551-445-211517/menakar-kebinekaan-di-sekolah-kita/


Penghapusan Perkawinan Anak melalui Pendekatan Partisipasi Anak Muda

Penulis: Fika Febriana (Anggota ARI)

Udara dingin menusuk tulang  dan hamparan kebun teh yang indah adalah hal pertama yang akan ditemui saat pertama kali menginjakan kaki di Desa Neglawagi, Kabupaten Bandung. Keramahan serta kehangatan kemudian ditunjukan masyarakat desa saat menyambut tim dari Save The Children serta YNVAC (Youth  Network Violence Againce Children), yang terdiri dari Aliansi Remaja Independen (ARI), Kompak  Jakarta dan Action! #Breakthechains, Details


Menghapus Stigma Sejak di Sekolah

“Each is right from his own point of view, but it is not impossible that everyone is wrong; hence the need for tolerance. By cultivating in ourselves tolerance of other views, we acquire a truer understanding of our own”- Mahatma Gandhi

Eh, lo nggak usah kemayu dong. Kayak homo aja

Jadi laki tuh yang gentle dong, jangan disenggol sedikit nangis

Usia kamu sudah dewasa, kapan nikah?

Kalau ada laki-laki disini, kenapa harus nyuruh perempuan sih?

Jangan sering bergaul dengan cowok, nanti nggak enak dilihat tetangga, neng.

Details


Alasan Moratorium UN Harus dilakukan dan Kenapa Ditolak ?

Kontributor: Arif Voyager

Sebuah gebrakan dilakukan kembali oleh Mendikbud untuk menutup akhir tahun 2016 ini dengan mengajukan Moratorium Ujian Nasional kepada Presiden Jokowi. Walau sempat menunggu instruksi dari Presien, dimana beberapa waktu lalu moratorium sedang dibahas pada rapat kabinet, nyatanya Moratorium tersebut di tolak. Sebelum kita bahas kenapa moratorium sampai ditolak, berikut komentar netizen di Line Today yang mungkin bisa membuat kita se-indonesia tergugah. Details

24
Sep

Muda Bicara Pendidikan Indonesia

Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia—Soekarno

Anak muda merupakan agent of change yang akan berkontribusi bagi perkembangan negara. Jiwa semangat masih bergejolak dengan idealisme yang tak mudah goyah, merupakan modal penting untuk dioptimalisasikan. Bentuk gerakan yang menyatukan mereka bisa menjadi jalan menuju peradaban yang lebih baik, itulah tujuan gagasan yang dibentuk oleh Aliansi Remaja Independen melalui salah satu gerakan Muda Bicara Pendidikan. Details

24
Sep

Ada Apa Dengan Kondom?

Pada tanggal 14 September 2016, saya dikejutkan oleh salah satu headline berita di laman situs berita ternama di Indonesia, merdeka.co.id, yang bertuliskan “Malu beli kondom, sejoli ini pakai kantong kresek buat hubungan seks”. Ketika saya membaca lebih lanjut, tersurat bahwa kejadian tersebut melibatkan dua remaja yang berstatus mahasiswa di Vietnam. Kedua remaja tersebut memilih berhubungan seks untuk pertama kalinya dan berkesadaran untuk berhubungan seks dengan aman. Sayangnya kesadaran tersebut tertutup oleh rasa takut akan stigma dari masyarakat dan kurangnya informasi dan edukasi mengenai seksualitas. Tersirat betapa kuatnya stigma dan prejudice masyarakat hingga mempengaruhi mentalitas remaja untuk berfikir sehat. Realita tersebut membuat perasaan saya miris tetapi sekaligus mengingatkan saya akan kondisi di negeri tercinta, Indonesia. Details