kekerasan seksual-organisasi-anak muda-yuyun-seksualitas-pendidikan-komperehensif
9
May

Pendidikan Seksualitas Komprehensif, Solusi Mendasar untuk Menghentikan Kekerasan Seksual

Kasus YY, anak perempuan asal Bengkulu berusia 14 tahun, yang meninggal setelah diperkosa oleh 14 remaja laki-laki, hanya sepenggal kisah dari 35 perempuan korban kekerasan seksual setiap hari di Indonesia, dan hanya satu fakta dari 135 anak korban kekerasan seksual setiap bulan di Indonesia. Kami mengutuk keras kekerasan pada anak dan perempuan, dan mendesak pemerintah untuk membekali anak sedini mungkin dengan pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi komprehensif dalam kurikulum pendidikan nasional.

Data dari Komnas Perempuan, di tahun 2015 saja, di ranah personal, ada 2.267 orang korban dan 859 orang pelaku dalam rentang usia 13-18 tahun. Sedangkan di ranah komunitas, dalam rentang usia 13-18 tahun tercatat 1.494 korban dan 514 pelaku, dalam rentang usia 6-12 tahun tercatat 552 korban dan 64 pelaku, dan dalam rentang usia di bawah 5 tahun tercatat 148 korban dan 8 pelaku. Sedangkan data KPAI menunjukkan sebanyak 78,3% anak Indonesia telah menjadi pelaku kekerasan.

Studi yang dilakukan oleh UNDP, UNFPA, UN Women dan UNV pada 2013 menunjukkan bahwa 64% lelaki Indonesia berusia 18-49 tahun ketika mereka berusia di bawah 18 tahun pernah mengalami kekerasan emosional dan 9% menyaksikan kekerasan terhadap ibunya sendiri.

Jika korban dan pelaku berusia muda ini terus terjadi, tidak ada satupun yang bisa menjamin bahwa besok atau lusa, bukan orang-orang terdekat kita yang menjadi korban atau pelaku selanjutnya. Maka langkah-langkah mendasar mutlak dilakukan dalam masa darurat kekerasan seksual di Indonesia saat ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI harus mengevaluasi dan mereformasi kurikulum, sistem  pendidikan yang memperkuat pengetahuan, kesadaran dan kesiagaan dalam mencegah  tindakan kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan.

Sekilas tentang pendidikan seksualitas komprehensif

Pendidikan seksualitas komprehensif adalah merupakan materi ajar yang di dalamnya mencakup pengetahuan kesehatan reproduksi, kesehatan seksual, gender, kesetaraan gender, hubungan personal dengan teman, guru dan orang dewasa lainnya, hubungan dengan orang lain, HAM dan masyarakat, toleransi dan pengharagaan terhadap perbedaan. Lebih jauh lagi, pendidikan seksualitas adalah pendidikan agar anak bisa mengenal dirinya lebih baik, dapat menjaga dirinya dari berbagai ancaman kekerasan, termasuk menghargai tubuh orang lain dan tidak berlaku semena-mena. UNESCO mengembangkan International Guideline on Sexuality Education (ITGSE) pada tahun 2009, sebagai respon terhadap angka HIV dan AIDS dengan berfokus salah satunya terhadap kesetaraan gender.

Berbagai dampak positif pendidikan seksualitas komprehensif pada anak

Studi yang dilaksanakan oleh UNESCO dan Aliansi Remaja Independen di tahun 2014 menjelaskan bahwa ada korelasi positif antara pengetahuan seksualitas yang komprehensif dengan perilaku remaja. Pendidikan Seksualitas Komprehensif secara mendalam memberikan pendidikan keterampilan hidup yang memberikan keterampilan bagi anak dan remaja kemampuan untuk menolak dan melindungi dirinya dari bentuk kekerasan.

Dampak jangka panjang dari adanya pendidikan seksualitas yang komprehensif berdasarkan studi di negara berkembang yang dilakukan oleh Fonner (2014) akan mendorong anak-anak memiliki keberanian untuk menolak hubungan seksual, dan akan menunda hubungan seksual pertama kali hingga mereka siap dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan pendidikan seksualitas sama sekali.

Sementara itu, penelitian longitudinal oleh FKM UI bersama dengan Rutgers WPF Indonesia selama 2011 dan 2013 menunjukan bahwa anak yang mendapatkan pendidikan seksualitas akan bisa mencegah kekerasan. Pada tahun 2013, 85% anak menyatakan bahwa pemaksaan terhadap hubungan seksual adalah hal yang tidak dapat dibenarkan. Angka ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun 2011 yang hanya berkisar di angka 44,6%. Sebanyak 68,1% anak selama 2013 juga menyatakan bahwa mereka bisa menolak hubungan seksual, dibandingkan dengan 2011 yang hanya 12,8%. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan seksualitas adalah bekal kuat bagi anak untuk menolak kekerasan seksual.

Berdasarkan data-data di atas, maka kami mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk segera mengimplementasikan beberapa hal berikut ini:

  1. Menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tentang pelaksanaan pendidikan seksualitas komprehensif di seluruh sekolah Indonesia, sedini mungkin dan komprehensif, termasuk di dalamnya mekanisme kerja dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program, serta mekanisme keterlibatan masyarakat sipil (termasuk partisipasi remaja AUSREM/Pemuda yang bermakna) yang jelas.
  2. Memastikan konten pendidikan seksualitas komprehensif yang akan diintegrasikan ke kurikulum nasional bersifat komprehensif dengan pedagogi yang efektif dengan cara menyusun secara bersama konten pembelajaran secara partisipatoris dengan berlandaskan pada penggunaan modul/materi yang sudah dicoba atau diimplementasikan melalui program lintas sektor.
  3. Memastikan ketersediaan anggaran pelaksanaan pendidikan seksualitas komprehensif dalam APBN, termasuk anggaran untuk monitoring dan evaluasi.

Apalah artinya pelajar kita juara dalam mata pelajaran matematika, fisika, bahasa Inggris, atau yang lainnya, jika di kemudian hari menjadi korban atau pelaku dari kekerasan. Maka negara dan orang dewasalah yang bertanggungjawab karena tidak mendidik mereka dengan mata pelajaran yang paling penting: kemanusiaan dan keadilan.

Jakarta, 9 Mei 2016

 

Aliansi Remaja Independen (ARI), Sindikat Musik Penghuni Bumi (SIMPONI), PKBI, Rutgers WPF Indonesia, Perempuan Mahardhika, dan berbagai organisasi lain yang tergabung dalam Proklamasi Anak Indonesia dan Komite Aksi Perempuan.

Narahubung:

  • Prameswari Puspa Dewi (ARI) 08989498858
  • Berkah Gamulya (SIMPONI) 081287338314

Post a Comment