Sejarah ARI

Aliansi Remaja Independen atau yang biasa disebut ARI ini memiliki sejarah yang panjang dalam upaya pergerakan remaja dalam melakukan advokasi di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Kehadiran ARI yang sampai saat ini terus memotivasi remaja lain dan terus melakukan advokasi untuk memperjuangkan hak remaja ini tidak luput dari peran para individu-individu maupun organisasi-organisasi yang senantiasa memberikan dukungan hingga ARI bisa berdiri hingga saat ini.

Sejarah ARI dimulai sejak adanya pertemuan Duta Remaja Nasional yang diinisiasi oleh salah satu penasihat ARI yaitu Kindy Marina. Kindy Marina ini menyadari bahwa remaja belum mendapatkan haknya secara utuh sehingga atas dasar itulah beliau dan teman-temannya serta di dukung oleh pemerintah terkait, LSM serta UN Agensi mengadakan pemilihan Duta Remaja Nasional sebagai bagian dari peringatan Hari Remaja Sedunia tanggal 12 Agustus. Kegiatan ini adalah peringatan hari remaja nasional pertama di Indonesia yang diadakan pada tanggal 11-17 Agustus 2005. Kegiatan ini dihadiri oleh 46 perwakilan remaja dari seluruh Indonesia yang berasal dari 33 provinsi.

Acara tersebut tidak hanya mempertemukan duta-duta remaja dari seluruh Indonesia namun duta remaja tersebut di berikan pembekalan selama satu minggu penuh mengenai informasi tentang Hak Asasi Manusia, Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi dan Advokasi kebijakan yang berkaitan dengan remaja yang kemudian diikuti dengan pertemuan dengan DPR dan Kementrian terkait.

Setelah satu minggu melaksanakan peringatan hari remaja nasional, para duta remaja kembali ke daerahnya masing-masing untuk mengembangkan organisasinya di daerahnya dan mengadvokasi hak remaja di daerahnya.

Seiring berjalannya waktu, beberapa perwakilan duta remaja yang berada di wilayah Jabodetabek terus melakukan kegiatan kecil seperti membangun kesadaran akan hak remaja terkait dengan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi. Pergerakan duta remaja ini tidak lepas dari dukungan orang dewasa. Di sinilah peran remaja dan orang dewasa berperan setara dalam upaya pemenuhan hak remaja.

Kegiatan-kegiatan kecil terus dilakukan seperti salah seorang duta remaja dari Jakarta bernama Nafis yang dengan gigih memberikan informasi tentang Kesehatan reproduksi di wilayahnya. Hingga akhirnya Nafis memberikan motivasi kepada duta remaja yang lain berada di wilayah jabodetabek dan akhirnya beberapa duta remaja di wilayah Jabodetabek ini dapat berkumpul dan bekerja sama untuk membuat kegiatan-kegiatan kecil.

Melihat pergerakan remaja yang pada saat itu masih sangat jarang sekali dilakukan, Kindy Marina kembali menginisiasi pertemuan nasional yang melibatkan duta-duta remaja yang masih aktif serta remaja-remaja lainnya yang aktif melakukan kegiatan di daerahnya masing-masing.

Akhirnya di Tahun 2007, kami berkumpul di Hotel Evergreen, Puncak-Bogor untuk membentuk jaringan remaja nasional karena kami menyadari bahwa kami tidak lagi dapat membawa nama duta remaja dan kami berfikir untuk membuat jaringan nasional yang dapat menyatukan remaja dari berbagai macam latar belakang. Dalam pertemuan ini dibentuklah kepengurusan serta draft Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Setelah melalui proses pemilihan kepengurusan akhirnya terbentuklah kepengurusan pertama yang di ketuai oleh Loveria Sekarrini, dengan sekertaris Sofyan Nursalim, bendahara Endang. Pada pertemuan ini juga di sepakati bahwa saat kami berkumpul dalam keanggotaan ARI, maka kami datang atas keinginan kami sendiri dan mengatas namakan diri sendiri bukan organisasi lain dimana kami bernaung.

Seiring dengan perjalanan waktu, di tahun 2008 dibentuklah kepengurusan baru yang diketuai oleh Rusli Halim dan Sekjen ARI yaitu Rachel Arini. Dalam perjalanannya, telah banyak agenda kegiatan yang dilakukan oleh ARI, baik di level lokal, nasional, maupun level internasional.

Di tengah perjalanan yang telah berumur 5 tahun, setelah permilihan duta remaja dan pengurus ARI yang pertama, dibentuklah kepengurusan ARI yang baru dengan Koordinator Nasional yaitu Nur Hidayati Handayani, Wakil Koordinator National yaitu Fita Rizki Utami, dan Bendahara yaitu Loveria Sekarrini dan pengurus lainnya seperti Setia Perdana, Kurnia Wijiastuti, Rahardhika Ariesta Utama, dan Didik Sugiartono. Dalam kepengurusan inilah akhirnya ARI dapat berproses untuk legalisasi untuk menjadikan ARI lebih sustain.

Memasuki tahun 2013, ARI memiliki kepengurusan baru, di mana Faiqoh sebagai Koordinator Nasional, Levina Ardiati sebagai Office Manager, Yulia Kartika Sari sebagai Finance Manager, Lina Yuliana sebagai Admin Staff, dan pengurus serta anggota lainnya seperti Ryan Fajar Febrianto, Rahmat Sah Saragih, Prameswari Puspa Dewi, Triani Margareth Nainggolan, Athifa Rahmah, Gisantia Bestari, Bestha Inatsan Ashila, Achmad Mujoko, Aviana Dwi Rahayu, dan Akbar Hardisurya. Kepengurusan ini telah berakhir pada tahun 2015.

Di tahun 2016 ini, ARI Nasional telah memiliki kepengurusan yang baru. Profil pengurus baru ARI Nasional dapat dilihat di menu Profil Organisasi -> Pengurus Nasional.

ARI’s history began in the meeting of the National Youth Ambassador, initiated by one of the advisors ARI , Kindy Marina. Kindy Marina realizes that teens do not get their rights intact so on the basis that she and her friends and supported by the relevant government, NGOs and UN agencies preselect National Youth Ambassador as part of World Youth Day on August 12. This activity is the first national memorial day teenagers in Indonesia which was held on 11-17 August 2005. This event was attended by 46 representatives of the entire Indonesian teenagers who came from 33 provinces.

The event not only brought together ambassadors teens from all over Indonesia, but were given a briefing teen ambassador for one full week for information on Human Rights, 12 adolescent issues ranging from education to environmental policy and advocacy relating to the teenagers, followed by a meeting by Parliament and the Ministry concerned.

After one week of implementing a national memorial teen day , teen ambassadors back to their respective regions to develop regional organizations and advocate for the rights of teenagers in the area. Over time, some representatives in Jabodetabek continue doing small activities such as building awareness of the rights associated with 12 adolescent issues. Teen Ambassador movement is not separated from adult support. This is where teens and adults having similar role in fulfilling the rights of teenagers.

Seeing the movement was still very rare, Kindy Marina initiate national meeting involving ambassadors that still active and other teens that are actively engaged in their respective regions.

Finally in 2007, we gathered at the Evergreen Hotel, Puncak-Bogor, to form a national network of because we realized that we were no longer able to carry the name of our teen ambassador and thinking to create a national network that brings together from various backgrounds. In this meeting formed the management and the draft Articles of Association and Bylaws Independent Youth Alliance (ARI).

The first stewardship led by Loveria Sekarrini, with Sofyan Nursalim as secretary, and Endang as treasurer.
Along with the passage of time, in 2008 formed a new stewardship led by Rusli Halim and general secretary Rachel Arini. Many agenda of activities undertaken by the both at the level of local, national and international.

In December 2012, ARI has officially become legal organizations. In addition to the national scope, ARI is also available in the local scope (area), that is in Kupang, Mataram, Makassar and Pati.